Stage Hipnosis adalah hipnosis yang digunakan untuk kepentingan hiburan (entertainment). Hipnotis yang terkenal dalam Stage Hipnosis adalah Romi Rafael. Hipnotis yang aral melintang selama hampir 4 tahun di dunia entertainment Indonesia ini telah berjasa mengenalkan hipnosis pada masyarakat di Indonesia. Hipnosis yang selama ini dipandang miring sebagai ilmu ‘sesat’ atau ilmu hitam yang membahayakan, akhirnya dapat berubah sedikit demi sedikit. Pandangan ini akibat munculnya ilmu gendam yang mirip dengan hipnosis. Yang membedakan adalah tujuan dari kedua ilmu tersebut. Ilmu gendam lebih sering dikaitkan dengan ilmu hitam dan digunakan untuk hal-hal yang negatif. Sedangkan hipnosis 100% merupakan ilmu pikiran (mind trick) yang digunakan untuk mere-program alam bawah sadar manusia yang 88% mempengaruhi perilaku manusia di alam sadar.
Dalam beberapa penampilannya, Romi Rafael menyatakan bahwa ia tak selalu berhasil dalam aktivitas hipnosis. Sempat beberapa kali ia bertemu dengan orang yang sulit dihipnosis. Menurut SHHS (Stanford Hypnotic Susceptibility Scale), terdapat 5% dari populasi manusia yang sulit untuk dihipnosis. Akan tetapi untuk kategori moderat yakni sebanyak 85% sehingga dapat disimpulkan sebagian besar populasi manusia sejatinya dapat dihipnosis.
Gaya Romi yang tenang dan charming menjadi daya jual tersendiri baginya, selain super skill hipnosis yang ia miliki tentunya. Saat perform, Romi senang bermain dengan imajinasi yang membuat aksi hipnosisnya semakin unik dan menghibur untuk ditonton. Semakin tinggi imajinasi seseorang yang dihipnotis maka semakin gampang pula sugesti-sugesti hipnotis yang dapat diterima. Bukti eksistensi Romi sebagai Master of Stage Hipnosis kian terlihat dari prestasinya meraih penghargaan MURI (Museum Rekor Indonesia) setelah berhasil menghipnotis 5ribu orang dalam satu waktu. Kepiawaian Romi memainkan dan menyusun kata dalam berkomunikasi, membangun imajinasi serta memberi sugesti-sugesti terhadap obyek hipnosisnya, luar biasa sistematis. Kemampuannya yang luar biasa juga tak main-main didapatnya, Romi belajar langsung pada ahli hipnosis terkemuka di USA selama 4 tahun. Tak heran, kemampuannya dalam bidang hipnosis sangat luar biasa.
Setelah Romi muncul di depan kamera, satu per satu hipnotis lain mulai muncul. Salah satunya adalah presenter sekaligus musisi, Uya Kuya. Di luar pekerjaannya, Uya ternyata memiliki hobi bermain sulap. Di salah satu stasiun TV swasta, ia membawakan program televisi yang menampilkan atraksi sulap dan hipnosis. Dalam atraksi hipnosisnya, Uya berusaha memberi suguhan yang berbeda bagi masyarakat Indonesia.
Uya menghipnosis subyeknya untuk mengetahui dan mengenal seseorang lebih dalam & semakin dalam… seiring dengan itu pun terkuak hal-hal yang tak terduga-duga sebelumnya. Seperti jati diri, penyimpangan-penyimpangan, hingga masalah-masalah yang dimiliki subyek. Berbeda dengan Romi, yang mengajak subyeknya bermain dalam permainan yang ringan, menghibur dan lucuu.
Every magician has their own way and trick. Yes! Romi dan Uya memang berbeda dalam stage hipnosis mereka. Romi memiliki cara menyajikan pertunjukan hipnosis berbeda dengan yang ditunjukkan Uya. Akan tetapi, melihat pertunjukan hipnosis yang dihadirkan Uya, semakin membuatku menimbang kata-kata Dedy Corbussier dalam salah satu episode program TV ‘The Master’, yang menyatakan ‘hipnosis itu apa sih? Isinya itu cuma malu-maluin orang aja kan!’.
(In my opinion) Uya merupakan seniman dengan sejuta keahlian. Keahliannya dalam bidang sulap pun tidak setengah-setengah. Bisa dikatakan luar biasa dan setara dengan pesulap-pesulap hebat lainnya. Akan tetapi, pertunjukkan hipnosis yang dihadirkannya (menurutkuu!) rasa-rasanya kurang pantas dihadirkan. Tujuannya memang baik, untuk mengeluarkan uneg-uneg yang terpendam dan susah diungkapkan saat sadar tapi entah kenapa saya berfikir, benar-benar malu-maluin banget kalau rahasia orang-orang itu diungkapkan lewat media televisi yang ditonton jutaan masyarakat Indonesia. Contoh kecilnya, setiap Uya bertemu dengan orang-orang, kemudian Uya menanyakan kesediaan mereka untuk dihipnosis, lantas mereka pun ketakutan dan melontarkan kata ’malu ah’, ’nanti rahasianya dibocorin lagi’. Celetukan-celetukan ini menggambarkan citra hipnosis Uya, yang dianggap membuat malu subyek hipnosisnya.
(Still in my opinion) Bukan berarti hipnosis Uya memalukan, tetapi media yang ia gunakan sebagai media pertunjukkan hipnosis adalah televisi yang ditonton jutaan masyarakat Indonesia. Malu gitu, bos! Aib kita diceritain dan dilihat sabang sampe merauke! Kalau Uya melakukan hipnosis itu dalam lingkup pekerjaannya sebagai hipnoterapis yang didatangi klien, bersifat rahasia, tanpa ada kamera, tentu berbeda penilaiannya. Aku belum tahu secara pasti, dalam ilmu hipnosis terdapat semacam aturan main atau tidak, seperti dalam Kode Etik Psikologi, yang mengharuskan Psikolog untuk melindungi dan menjaga kerahasiaan data klien yang menggunakan jasanya.
Disetiap awal proses hipnosis, Uya selalu menekankan bahwa hipnosis yang dilakukannya hanya bermaksud untuk menyalurkan uneg-uneg/ curahan hati yang selama ini dipendam agar subyek menjadi lega. ’Bila subyek tidak ingin mengungkapkan sesuatu yang bersifat rahasia maka subyek tidak perlu mengungkapkannya’. Begitulah sebagian sugesti yang diberikan Uya sesaat sebelum hipnosis dimulai. Saat proses hipnosis dimulai, aku mulai merasakan inkonsistensi dari janji Uya di awal yang menyatakan subyek tiak perlu mengungkapkan rahasia dirinya bila tak ingin diungkapkan.
Setelah hipnosis dimulai, Uya kembali memberi sugesti ’Anda harus menjawab setiap pertanyaan dari saya dengan sejujur-jujurnya, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi’. Kemudian, aku berpikir lagi dengan janji Uya di awal yang tak akan mengutak-atik rahasia pribadi si subyek, tapi selanjutnya mensugesti subyek bahwa ’Anda harus menjawab setiap pertanyaan saya dengan sejujur-jujurnya, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi’. Nah lho?? *bingung* Sebenarnya rahasia kita itu boleh untuk tidak diungkapkan atau harus diungkapkan sih ??? X _X
Hal di atas adalah alasan mengapa aku kurang setuju dengan hipnosis show Uya Kuya, walau share (rating) untuk acara ini cukup tinggi dan berada dalam primetime program TV. Dan aku tetap menahtahkan Master of Stage Hypnosis untuk Maestro Hipnosis, Romi Rafael. Sang maestro yang menggunakan ilmu hipnosis untuk kegiatan yang fun dan entertaining selama di televisi. Karena yang dihadirkan di layar televisi mayoritas berkaitan dengan entertaining people. Bila ingin dihipnosis untuk mengeluarkan uneg-uneg atau curhat, tempatnya bukan di depan kamera televisi, melainkan di hipnoterapis.. :)
